"Now I see the secret
of making the best person :
it is to grow in the open air,
and to eat and sleep with the earth."
(Walt Whitman)
Banyak orang mungkin menganggap bahwa kegiatan di alam bebas
terutama mendaki gunung sering diidentikan dengan kegiatan "heroik, atau
kegiatannya orang nekat". Bahkan dianggap sebagai olahraga yang
menyerempet bahaya, dan banyak orang sering khawatir saat anggota keluarganya
melakukan kegiatan mendaki gunung, atau bahkan ada yang menganggap mendaki
gunung adalah ; tindakan yang bodoh, sia-sia, mencari masalah, atau dianggap
orang gila, serta suka mencari kematian, bahkan ada sebagian orang yang
menganggap dan meyetempel bahwa pendaki gunung adalah kumpulan orang nekat,
atau suka bikin repot orang banyak kalau pas lagi hilang digunung, dan masih
banyak sebutan minor lainnya, yang ditujukan oleh orang awam yang tidak
mengenal atau belum mengerti akan tujuan naik gunung.
Namun bagi mereka yang sering melakukan atau pernah sekali
saja mengikuti kegiatan mendaki gunung akan berpikiran lain, bahkan banyak
kejadian jika sudah pernah sekali merasakan pengalaman melakukan pendakian
gunung akan punya keingian untuk mengulang dan terus mengulang, ada yang sampai
tuapun masih tetap melakukan aktivitas di alam bebas ataupun pendakian, dan
menjadi suatu kenangan indah yang tak akan pernah mereka lupakan yang dapat
mereka ceritakan pada anak dan cucu mereka. Kalau ditelaah lebih jauh, mengacu
pada tulisan Walt Whitman diatas ataupun tulisan dari Bapak Palang Merah Dunia,
Hendry Dunnant, Bahwa :
“Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa jika pemudanya
masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung.”
Dari sini bisa kita tarik garis yang dapat memberikan
penjelasan dan pemahaman tentang hal tersebut. Bahwa mendaki gunung adalah
suatu proses yang panjang dan melelahkan menguras tenaga dan membutuhkan
persiapan yang matang, latihan yang teratur, displin yang tinggi, kesabaran
yang sangat lumayan, dan membutuhkan tekad yang kuat serta semangat yang tidak
pantang menyerah ketika dihadapkan pada kesukaran dan medan yang terjal kadang
naik turun, serta berliku-liku serasa tidak ada ujungya saat perjalanan sampai
dipertengahan, didalamnya banyak hikmah yang bisa dipetik dari kegiatan naik
gunung andai kita mau dan mampu menjadikan pengalaman naik gunung sebagai
pelajaran untuk pembentukan karakter. Bahwa pelajaran hidup tidak hanya didapat
dari jalur formal, dan seringnya kita sudah dari kecil hanya dicekoki
kaedah-kaedah formal (mementingkan IQ) dan selalu menjadi insan untuk bermain
sebagai seorang safety player dalam menjalani hidup dengan tinggal dan berkutat
di rumah, belajar sekolah, lulus sekolah, kerja, menikah dan punya anak serta
cucu, banyak hal yang diajarkan dan ditanamkan dalam diri kita dari usia dini
hanya tentang nilai-nilai bahwa sebuah keberhasilan diukur dari disekolah yang
pintar mendapat nilai yang tinggi, kerja yang mapan dan lain lain. begitu
mereka dihadapkan kepada permasalahan dalam kehidupannya akan sangat
kebingungan karena selama ini mereka tidak pernah mengenal dan memperaktekkan
nilai-nilai diri, prinsip hidup dan karakter, yang tidak didapatkan dalam jalur
formal, kecuali dari cerita-cerita orang atau di buku-buku, akan sangat berbeda
jika pengalaman hidup itu kita dapat langsung dalam proses kehidupan kita.
Salah satunya melalui kegiatan mendaki gunung sebagai salah
satu bagian dari kegiatan kepecinta-alaman, yang boleh dikata dalam berkegiatan
di alam merupakan laboratorium mini kehidupan, bukan hanya IQ nya saja tetapi
ESQ nya juga terlatih dalam proses secara alami saat berkegiatan di alam.
Banyak dari jebolan Pendaki Gunung ataupun Pencinta Alam memiliki jiwa tegas,
lebih tenang dalam mensikapi sesuatu atau saat dihadapkan masalah, bahkan
sering kali sangat idealis dalam memandang masalah dan kehidupan, sering
memegang nilai-nilai diri, tidak akan mengambil hak kalau bukan haknya,
memegang komitmen dan bertanggung jawab atas semua tindakannya, tidak
mendendam, menerima setiap keadaan jika usaha dan perjuangannya gagal, namun
tidak akan menyerah selama masih dalam koridor etika dan nilai-nilai hidup
(pranata, budaya, dan agama) sampai dirinya sendiri ataupun Tuhan bilang untuk
berhenti, setiap langkahnya selalu didasarkan norma-norma dan prinsip kehidupan
yang diajarkan oleh alam. Ada hal yang mungkin kadang orang yang tidak kenal
dengan etos dan semangat pantang menyerahnya seorang pecinta alam, sering kali
dianggap tukang ngeyel, terlalu idealis atau lebih parahnya di bilang nekat
ketika dihadapkan pada suatu masalah atau keadaan, padahal sejatinya mereka
pantang menyerah tetapi tidak akan meninggalkan nilai-nilai dan norma
kehidupan, dan dapat megukur serta sadar diri.
Seperti kegiatan di alam bebas lainnya, sejatinya, mendaki
gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan sehari hari, dimana dalam pendakian
gunung terdapat banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang pastinya
dibutuhkan seseorang dalam menjalani hidupnya. "karakter" di sini maksudnya adalah
bagaimana seseorang menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala
kejadian yang dihadapinya dalam kehidupan. Kebiasaan positif itu tentunya dapat
dipelajari dan perlu dibangun/dilatih, salah satunya melalui kegiatan mendaki
gunung, dalam mendaki gunung seseorang dapat membangun karakter positif dirinya
dengan alamiah.
Namun juga tidak dapat disalahkan kalau selama ini orang
beranggapan seperti itu, karena dengan banyaknya kejadian dalam pendakian
gunung yang akhiri-akhir ini merenggut korban jiwa. Apalagi sekarang ini
ditengah maraknya media televisi ataupun media cetak yang menayangkan
bermacam-macam acara kegiatan di alam bebas yang berisi tentang keindahan alam,
mengundang minat orang untuk merasakan
dan melakukan, sehingga dengan mudah sekarang ini orang secara instan dapat
melakukan pendakian gunung, tanpa persiapan matang dan tanpa melakukan latihan
ataupun mengikuti pendidikan terlebih dahulu, sehingga kurang pembekalan dan
persiapan, baik fisik maupun pengetahuan.
Seseorang atau seorang Pencinta Alam dalam melakukan
Pendakian Gunung membutuhkan persiapan yang matang dan pelatihan yang terus
menerus, yang tidak didapatkan secara instan berdasarkan resiko yang dihadapi
saat menjalankan aktivitasnya, sehingga dibutuhkan penguasaan keahlian dan
pegetahuan yang harus dilatih terus menerus (sehingga di Komunitas Pecinta Alam
ada ritual pemberian syal yang disematkan diatas pundak dan melingkar dileher
mereka, hal ini untuk menunjukkan bahwa mereka telah melalui pendidikan dan
pelatihan yang terus menerus dan memiliki bekal kemampuan utuk melakukan
aktivitas di alam bebas), dan tanpa disadari dalam proses belajar untuk menjadi
seorang Pecinta alam yang melewati banyak pelatihan ternyata banyak manfaat dan
pelajaran yang dapat kita petik dibalik itu semua, secara garis besar dapat
dijabarkan sebagai berikut :
Mendaki Gunung adalah kegiatan yang membutuhkan persiapan
matang. Persiapan perjalanan pendakian akan melatih seseorang "Terbiasa
untuk tidak gegabah dan selalu penuh perhitungan" di setiap langkahnya.
Dua hal ini pasti juga dibutuhkan dalam menjalani petualangan kehidupan sehari
hari. Dengan melakukan perencanaan, seseorang juga belajar bertanggung jawab
atas segala aktivitas yang akan dilakukannya
Banyak yang tidak menyadari bahwa mendaki gunung bukanlah
kegiatan impulsif (kegiatan sesaat, seperti orang yang sedang berwisata) karena
kegiatan ini mengharuskan seseorang melakukan persiapan dengan baik. Seseorang
ataupun kelompok yang hendak melakukan aktivitas ini sebenarnya telah belajar
banyak hal positif, bahkan sejak persiapan awal dilakukan. Persiapan itu
diantaranya meliputi penentuan tujuan, merancang target perjalanan, mencari
tahu support system yang ada (misalnya rumah sakit terdekat, pengetahuan
tentang P3K atau personel yang menjadi
FRM = First Response Medical atau paling tidak, ada menguasai tentang P3K,
siapa yang menjadi personel yang akan turun untuk mencari bantuan, jalur/rute
mobilisasi, lokasi kantor polisi ataupun penjaga hutan, sehingga pada saat
terjadi kecelakaan, sudah tahu tindakan apa yang harus dilakukan), mempelajari
karakteristik gunung atau tempat yang dituju, hambatan, kesukaran atau
kemungkinan bahaya yang mengancam, membuat persiapan rencana antisipasi (baik
untuk pribadi ataupun rombongan), mempelajari tips dan penanganan darurat, atau
membuat daftar peralatan dan perbekalan yang dibutuhkan untuk mendaki. Semua
itu harus dipersiapkan matang, dengan tujuan mengutamakan keamanan atau safety.
Mendaki Gunung "Menanamkan rasa cinta terhadap alam dan
lingkungannya serta Tanah Air". Rasa cinta pada alam tidak bisa tumbuh
hanya dengan melihat brosur perjalanan wisata atau menonton televisi, namun
dengan berkegiatan langsung di alam diharapkan akan timbul rasa cinta pada
lingkungan, sesama dan Tanah Air, seperti yang pernah disampaikan oleh Soe Hok Gie, waktu ada yang mempertanyakan
kepada dirinya kenapa dia suka naik gunung, dia menjawab dengan kata-kata,
bahwa :
"Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan
slogan-slogan, Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia
mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan
mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat
dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat".
Masih tercetak jelas didalam ingatan, setiap melakukan
pendakian begitu sampai puncak gunung, mencium Bendera Merah Putih dan
melakukan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak, merasakan momen
yang sangat luar biasa akan rasa Cinta
terhadapTanah Air kita Indonesia dan rasa bersyukur bahwa hidup di Negara yang
di anugerahi keindahan alam dan keaneka-ragaman alam dan budaya yang sangat
luar biasa, disamping itu ada pengalaman yang tidak bisa saya lupakan, dalam
melakukan pendakian di gunung, ketika melihat disepanjang jalur pendakian,
banyak sampah berserakan (apalagi saat musim pendakian dan liburan sekolah),
pada saat itu dengan beberapa teman yang baru kenal di gunung, ketika
berdiskusi di puncak saat akan turun untuk melakukan bersih gunung, tanpa di
komando semua orang yang ada di situ mengiyakan, tanpa merasa diperintah
ataupun disuruh mereka melakukannya dengan menggunakan kantong plastik yang ada
di tas mereka masing-masing bahkan ada yang menggunakan tas ransel mereka untuk
mengangkut sampah turun dan sepanjang perjalanan turun ketika kita sampaikan
kepada rombongan lain yang ditemui disepanjang perjalanan turun, mereka
mengiyakan dan berpartisipasi tanpa banyak tanya, komentar ataupun komplain
(coba kalau hal tersebut kita lakukan di jalanan ditengah kota, mungkin ada
beberapa orang yang mau, ada yang ogah-ogahan, atau bahkan mencibir dan
dianggap aneh, hal ini dulu sering saya lakukan saat bekerja di Jakarta
beberapa tahun yang lalu memunguti sampah yang berserakan dipinggir jalan
didepan kantor, saat pulang kantor atau
disekitar komplek tempat tinggal, ada beberapa orang yang menganggap
aneh, menertawakan, mencibir bahkann ada yang bilang kurang kerjaan).
Seseorang Pencinta alam (Pendaki Gunung) akan dilatih untuk
menjadi seseorang yang penuh cinta pada lingkungannya, pada sesama dan Rasa
Cinta dan bangga pada Tanah Air, akan selalu terasah untuk bertanggung jawab
pada dunia, paling tidak pada lingkungan di sekitarnya. Tidak membuang sampah
sembarangan atau merusak ekosistem yang ada, bertoleransi dan saling
menghargai, menumbuhkan jiwa untuk saling tolong menolong dengan sesama,
menjadi pelajaran paling sederhana namun sangat penting yang bisa didapat
melalui aktivitas naik gunung.
Mendaki gunung adalah pelajaran tentang "Disiplin,
memegang komitmen, bertanggung jawab, tidah mudah putus asa, serta berani
mengambil keputusan dengan tepat, memiliki prinsip hidup, dan siap menerima
resiko atas semua tindakan yag dilakukan serta melatih dan menumbuhkan jiwa leadership".
Karena, ketika melakukan pendakian, seseorang dihadapkan pada banyak tantangan,
medan perjalanan sudah pasti menanjak, tidak rata, dan pastinya menguras
tenaga. Jalur pendakian kerap tidak begitu jelas, dan banyak sekali ditemukan
persimpangan. Sering kali jurang terbentang di kiri atau kanan jalan setapak,
yang kadang dapat menghentikan rencana perjalanan, belum lagi udara dingin
menggigit, sementara oksigen yang kian tipis membuat napas menjadi lebih berat
dan tersengal. Untuk itulah, seseorang yang mendaki gunung diharuskan membawa
perlengkapan maksimal dalam sebuah tas ransel. Artinya, butuh perjuangan keras
untuk melakukan pendakian dengan beban yang dipikulnya untuk mencapai tujuan;
yaitu puncak gunung. Disini, kita belajar displin dan pengorganisasian yang
jelas disamping perencanaan yang matang, dalam perjalanan harus ada seorang
pimpinan perjalanan, yang akan mengarahkan selama perjalanan, mengatur irama
pendakian, mengontrol peserta pendakian, dibutuhkan orang yang memiliki
leadership, karakter yang kuat, visioner, dan memiliki perhitungan yang matang
dan pengalaman tentang jalur pendakian.
Contoh latihan disiplin yang sederhana saat melakukan
pendakian adalah ketika beristirahat, sangat dianjurkan seseorang untuk
mengambil jaket untuk memelihara panas tubuh yang ada. Sebab, sering kali,
panas tubuh perlahan menghilang berganti dengan rasa dingin menggigit. Rasa
lelah sering kali membuat seseorang malas untuk bergerak membuka tas untuk
mengambil dan kemudian mengenakan jaket. Nah, di sinilah seseorang belajar
untuk disiplin mengelola rasa malas dan bergerak meraih ranselnya, mengeluarkan
jaket, dan mengenakannya. Sebab, dengan mengabaikan disiplin, tujuan tak akan
didapat, dan sesuatu yang tidak diharapkan dapat terjadi. Dalam kehidupan keseharian,
banyak kejadian tidak mengenakan terjadi hanya karena kita tidak berhasil
disiplin. Kita kerap enggan mengalahkan rasa malas yang ada. Bahkan, seseorang
sering kali memiliki banyak ketakutan ataupun kekhawatiran dalam dirinya
sebelum melakukan sesuatu yang menjadi tujuannya.
Dari sini, bisa disimpulkan, bahwa aktivitas mendaki gunung
memungkinkan seseorang mengalami rasa takut dan cemas akan kondisi yang timbul
di lapangan. Namun, pengalaman mendaki lambat laun memberikan kesempatan pada
seseorang untuk mengelola rasa takut dan kekhawatiran yang timbul dengan
melakukan tindakan yang diperlukan.
Di Gunung adalah "Tempat belajar yang baik untuk kita,
mengasah pribadi dan menemukan hakekat diri”. Orang-orang yang memiliki tujuan
seperti inilah orang yang mampu berguru pada alam, di gunung juga dapat memberi
gambaran tentang kepribadian dan karakter aslinya orang, Melalui kegiatan
mendaki gunung, kita akan mampu mengenali pribadi dan karakter asli teman yang
sebenarnya. Sebab, ketika kita mendaki gunung, beberapa karakter pribadi orang
yang sebenarnya akan nampak karena situasi yang sedang dihadapi. Misalnya:
Kelelahan, kedinginan, kehabisan bekal makanan atau air, terjebak badai,
tersesat, mengalami musibah kecelakaan, ada teman yang sakit, atau bahkan
karena gagal sampai ke puncak. Ada yang jujur/tidak jujur, ada yang setia
kawan/ tidak setia kawan, ada yang egois/tidak egois, ada yang teliti/ceroboh,
ada yang sombong/rendah diri, dll. Karena itu dengan kegiatan mendaki gunung,
kita akan bisa lebih mengenal karakter pribadi seseorang yang sebenarnya.
Banyak pelajaran yang didapat dalam mendaki gunung, bahwa semakin banyak kita
mendaki gunung, semakin mengasah empati, saling menghormati, kebersamaan, tidak egois, tidak sombong, mudah bergaul dan
bersosialisasi, perduli dengan sesama dan lingkungan, bertoleransi, setia
kawan, tolong menolong, bekerja-sama, selalu berhati-hati, memperhitungkan
resiko, teguh dengan prinsip yang berdasarkan norma-norma hidup, tidak mudah
menyerah, bertanggung jawab dll.
Dalam pengalaman saya melakukan pendakian, banyak pelajaran
hidup yang yang tidak didapat dibangku sekolah, ada salah satu pengalaman yang
tidak terlupakan yang berhubungan dengan melihat karakter pribadi teman-teman
dalam melakukan pendakian, salah satu pengalaman adalah saat berlaku sombong
sengaja menyasarkan diri digunung, saat mendaki dengan beberapa orang yang baru
saya kenal di desa terakhir, kemudian sepakat kami ber 5 untuk mendaki bersama,
ditengah perjalanan ada salah seorang dari mereka yang sangat dominan (udah
gede badannya, mukanya gahar, suaranya bangor, kelihatan paling tua), membujuk
dan memaksa kelompok untuk membuka jalur baru, dengan terpaksa akhir kita
mengikuti dia, keluar dari jalur pendakian normal, mengambil jalan menyusuri
pinggiran jurang, bukannya mengikuti jalur normal yang mengikuti punggungan
gunung, hanya karena ada ambisi dan keinginan pengen membuat jalur baru atas
nama dia dan teman-teman, berjalannya waktu yang kita hadapi adalah jalur yang
masih asing, medan yang terjal, masih harus menghadapi semak belukar dan
tanaman yang masih sangat rapat, dimana seharian jalan baru seperempat jalan
ditempuh, ditengah perjalanan dihadang hujan badai, makanan mulai menipis,
tenaga mulai habis, dan ujung-ujungnya ketemu jalur buntu, pas dibawah antara
pertemuan dua punggungan gunung, dengan tebing yang terjal menghadang yang
tidak mungkin didaki dengan tangan biasa, akhirnya kami berhenti dan berdiskusi
tindakan apa yang harus diambil, disitulah masalah mulai timbul mereka berempat
orang yang berteman, saling beradu argumen dan saling menyalahkan satu sama
lain, saling menunjukkan egonya masing-masing, saling memaki dan hampir beradu
fisik, saya memilih untuk diam dikejauhan (sifat botol karbolnya keluar), lebih
baik diam dari pada ikut ribut, akhirnya rombongan terpecah menjadi dua, ada
yang pengen balik ada yang pengen terus dengan memutari punggungan gunung, saya
memilih kelompok yang balik untuk turun, karena kondisi yang sudah tidak
memungkinkan, sudah begitu sisa perbekalan kelompok yang akan turun diminta
separoh untuk kelompok yang meneruskan, berjalannya waktu, kami yang turun
sampai dibawah dan menunggu kelompok yang terus melanjutkan perjalanan, namun
sampai di hari ketiga mereka tidak turun-turun, sehingga kami memutuskan untuk
lapor dan berkoordinasi dengan pak kadus dan warga setempat untuk melakukan
pencarian, ditengah persiapan pencarian, kami dikagetkan dengan datangnya teman
kami tersebut dari bawah diantar oleh motor, selidik punya selidik, mereka
bukannya sampai puncak tapi kesasar dan ditemukan penduduk desa dari jalur
pendakian yang lain dalam kondisi kepayahan dan keletihan diladang penduduk.
Hampir semua penduduk yang ada di situ dan Pak Kadus memarahi mereka, bahkan
sempat diinterogasi oleh polisi yang ikut datang.
Ada pelajaran yang bisa saya petik, bahwa saat melakukan
pendakian harus sesuai dan berdisiplin dengan rencana yang telah ditetapkan,
bahwa dalam melakukan pendakian tidak boleh sombong dan egois yang justru akan
membahayakan keselamatan diri sendiri, kelompok atau teman, harus mampu
mengukur kekuatan diri, dan jangan melakukan pendakian tanpa persiapan dan
perencanaan.
Ada hikmah yang dipetik dari interaksi dengan mereka setelah
beberapa kali menemani mereka naik di beberapa gunung, pada akhirnya mereka
sadar dan menghargai hidup, pelan pelan karakter positif mereka tumbuh,
pelan-pelan mereka mulai meninggalkan dunia mereka, dunia mabuk-mabukan, malak
dijalanan dan main judi, sehingga akhirnya mereka sadar mencari kerja yang
bener-bener halal, dan sampai sekarang masih terjalin komunikasi dengan mereka,
bahkan ada yang bercerita kalau ada anaknya yang mulai ikut kegiatan pecinta
alam dan naik gunung. Ada pelajaran yang bisa dipetik ketika kita mau
berinteraksi dengan orang yang dipinggirkan oleh masyarakat, disaat mereka
memiliki keinginan yang baik dan didukung serta diarahkan dan kebetulan dengan
dikenalkan pada aktivitas pendakian gunung dan diajarkan nilai-nilai karakter
yang positif, pelan-pelan dapat merubah mereka dari dalam diri mereka sendiri
tanpa dipaksa dan menginspirasi mereka menuju kekebaikan.
Manfaat yang langsung dapat dirasakan oleh orang yang secara
teratur melakukan kegiatan pendakian di
gunung (termasuk di dalamnya ada lathan fisik secara teratur untuk persiapan
pendakian), adalah "Lebih terjaga kesehatannya", seperti :
1.
Mengatasi obesitas, mendaki gunung membuat kita menggerakkan
seluruh anggota badan sehingga mampu membakar lemak dan olahraga pelawan
obesitas,
2.
Mencegah penyakit jantung, Aktivitas jalan kaki secara teratur dalam hal
ini melakukan pendakian dapat mencegah penyakit jantung, menyuguhkan aktivitas
berjalan kaki diiringi pemandangan yang indah bisa menjadi pilihan olahraga
yang tepat.
3.
Menurunkan kolesterol, Salah satu cara mudah
untuk menurunkan kolesterol ialah dengan berjalan kaki dan hiking atau mendaki
gunung selain mengurangi resiko terkena penyakit jantung, juga mampu meningkatkan
kolesterol baik, HDL,
4.
Menurunkan tekanan darah, lakukan hiking atau
mendaki gunung selama 30 menit dengan melewati track menanjak, maka dapat
menjauhkan dari tekanan darah tinggi,
5.
Mengurangi stres dan depresi, Olahraga memang
terbukti menjauhkan Anda dari stres dan depresi, tidak hanya mengembalikan
kebugaran tubuh tetapi juga sebagai ajang rekreasi,
6.
Mencegah osteoporosis, Hiking atau mendaki
gunung bermanfaat untuk meningkatkan kepadatan tulang dan kekuatannya. Salah
satu jenis olahraga ekstrem ini pun mampu mencegah hilangnya kalsium dan
kemungkinan patah tulang akibat osteoporosis.
7.
Suguhkan
udara segar, hiking atau mendaki gunung menyuguhkan udara segar dan belum
tersentuh polusi.
8.
Gerakan aerobik yang lengkap, Hiking menjadi
latihan aerobik dengan gerakan yang lebih lengkap karena semua anggota tubuh
ikut bergerak.
Pengalaman masing-masing Individu dalam melakukan Pendakian
Gunung mungkin berbeda, namun secara umum manfaat yang bisa dipetik paling
tidak ada enam hal tersebut diatas, bahkan mungkin buat orang lain bisa lebih
dari 6 hal yang sudah disebutkan diatas, tetapi paling tidak, dalam proses
kehidupan kita pengalaman mendaki gunung sangat membantu kita membentuk
karakter positf buat diri kita sendiri, serta prilaku utama yang mejadi
landasan dan pegangan hidup dalam menjalani kehidupan di dunia.
Membaca buku tentang alam sesuatu hal yang baik...
tetapi jika seseorang berjalan di hutan
dan mendengarkan dengan hati-hati....
dia bisa belajar lebih dari apa yang ada di buku...
karena mereka berbicara dengan suara Tuhan....
George Washington Carver






